behind my second presentation

last night, i posted story on my instagram.
but, actually, it's not what i want to tell about.



a few days before 5th April, I pray to God. Ask calmness for everything that could happen on that day. And it happened. Alhamdulillah.
I was amazed.
until something happened on the afternoon.
I almost break my calmness because of this person.
Orang ini kuat dan tidak mau kalah, parahnya dia ngatur.
I am the opposite, lemah dan mendem.
What's the solution ?
Of course, speak up, yi!
Tapi itu percuma guys.
Orang kayak gini, kalau kita terbuka, justru jadi debat.
why?
karna dia gak mau diatur. dia maunya ngatur.
dia gak mau kalah. dia maunya kita yang ikut aturan dia.
do you think i haven't tried yet ?
I'm not that stupid.
I did.
sampai di perempatan lampu merah, gue mikir..
gue punya pilihan.
pertanyaannya, lanjutkan atau pasrah ?
and then I flashback sedikit.
gue kebayang ketika orangtua yang minta anaknya melakukan sesuatu dan anak itu ngelawan karna dia punya pilihan lain.
saat anak gak ngikutin perintah orangtua, mereka anggap masih kekanak-kanakan. egois.
saat kita pasrah, nurut, manut apapun yang diperintahkan oleh orangtua, kita dianggap dewasa.
jadi, kesimpulannya adalah, kalo kita melakukan sesuatu yang kita gak suka, kita dianggap dewasa.
and then another thoughts come to my head.
coba perhatikan orang lain.
ketika mereka harus kerja. beban kerja itu ada. gak suka ini lah gak suka itu lah. tapi mereka tetap melakukannya. mereka dianggap bersikap dewasa.
mereka bukan gak tau bahwa mereka gak suka. dan mereka bukan gak punya pilihan lain yang mereka suka. mereka hanya....dewasa. udah itu aja.
coba lihat, orang-orang yang keukeuh atas dasar suka atau tidak suka. bertindak hanya pada hal-hal yang mereka suka. apa keliatannya ? kayak anak-anak kan ?
iya.
jadi, tidakkah ini bisa dipakai untuk my problems at this time ?
mungkin memang ini saatnya untuk bilang "ya" padahal "tidak" dan tetap melakukannya padahal enggan ?
untuk apa ?
untuk menyesuaikan dengan usia yang kini sudah masuk ke tahap dewasa.
supaya lebih sesuai aja.
iya, inilah kenapa muncul usia tidak menentukan tingkat kedewasaan seseorang.
gue tua tapi ga dewasa.
huhu...

dan pada akhirnya waktu itu gue pasrah ngikutin aturan main si bapak.
yang menurut gue itu merugikan. ngeselin dan gak banget deh kalau harus kerjasama lagi.
tapi ya biasanya ada aja atribut dari orang diposisi itu yang bikin gue nyesel udah mikir aneh-aneh. contohnya, mungkin dia memang punya kekurangan di bagian yang gue keluhkan tadi.

yah...sampe sini juga belum selesai. karna pasti ada penilaian lain dari luar diri gue dan si bapak selaku pemain utama. misalnya, gue dicap gak asertif atau ngalah mulu kalau sama orang luar.
yagitu deh, namanya juga punya abs +++ wkwk.

Comments

Popular Posts